فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَيْهِ قَالُوا يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ مَسَّنَا وَأَهْلَنَا الضُّرُّ وَجِئْنَا بِبِضَاعَةٍ مُّزْجَاةٍ فَأَوْفِ لَنَا الْكَيْلَ وَتَصَدَّقْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّ اللَّـهَ يَجْزِي الْمُتَصَدِّقِينَ ﴿٨٨﴾ قَالَ هَلْ عَلِمْتُم مَّا فَعَلْتُم بِيُوسُفَ وَأَخِيهِ إِذْ أَنتُمْ جَاهِلُونَ ﴿٨٩﴾ قَالُوا أَإِنَّكَ لَأَنتَ يُوسُفُ ۖ قَالَ أَنَا يُوسُفُ وَهَـٰذَا أَخِي ۖ قَدْ مَنَّ اللَّـهُ عَلَيْنَا ۖ إِنَّهُ مَن يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّـهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ ﴿٩٠﴾ قَالُوا تَاللَّـهِ لَقَدْ آثَرَكَ اللَّـهُ عَلَيْنَا وَإِن كُنَّا لَخَاطِئِينَ ﴿٩١﴾ قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ۖ يَغْفِرُ اللَّـهُ لَكُمْ ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ ﴿٩٢﴾ اذْهَبُوا بِقَمِيصِي هَـٰذَا فَأَلْقُوهُ عَلَىٰ وَجْهِ أَبِي يَأْتِ بَصِيرًا وَأْتُونِي بِأَهْلِكُمْ أَجْمَعِينَ ﴿٩٣﴾ وَلَمَّا فَصَلَتِ الْعِيرُ قَالَ أَبُوهُمْ إِنِّي لَأَجِدُ رِيحَ يُوسُفَ ۖ لَوْلَا أَن تُفَنِّدُونِ ﴿٩٤﴾ قَالُوا تَاللَّـهِ إِنَّكَ لَفِي ضَلَالِكَ الْقَدِيمِ ﴿٩٥﴾
فَلَمَّا أَن جَاءَ الْبَشِيرُ أَلْقَاهُ عَلَىٰ وَجْهِهِ فَارْتَدَّ بَصِيرًا ۖ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ مِنَ اللَّـهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ ﴿٩٦﴾ قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ ﴿٩٧﴾ قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي ۖ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴿٩٨﴾ فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَىٰ يُوسُفَ آوَىٰ إِلَيْهِ أَبَوَيْهِ وَقَالَ ادْخُلُوا مِصْرَ إِن شَاءَ اللَّـهُ آمِنِينَ ﴿٩٩﴾ وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا ۖ وَقَالَ يَا أَبَتِ هَـٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِن قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا ۖ وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُم مِّنَ الْبَدْوِ مِن بَعْدِ أَن نَّزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي ۚ إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِّمَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ ﴿١٠٠﴾ ۞ رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِن تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ ۚ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ ﴿١٠١﴾ ذَٰلِكَ مِنْ أَنبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ ۖ وَمَا كُنتَ لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوا أَمْرَهُمْ وَهُمْ يَمْكُرُونَ ﴿١٠٢﴾ وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ ﴿١٠٣﴾
Dari Ayat2 tersebut kita dapat memetik beberapa pelajaran berharga diantaranya:
1.Kesahabaran mendidik anak bagi nabi Ayyub as sampai anak2 beliau berhasil menjadi Nabi semua(termasuk ikhwatu Yusuf as)
2.Orang yg madhlum/teraniaya akan hidup lebih mulia dibanding si Dzolim.
3.Nabi ya'qub bertabarruk dengan baju Nabi Yusuf dan sembuhlah penyakitnya.
4.Nabi Ya'qub dapat mrasakan bau aroma Nabi Yusuf yg berjarak ratusan kilo meter dan keluarganya tidak percaya.
5.dalam Syari'at nabi Yusuf,seseorang boleh bersujud kepada orang lain yg dimuliakan.
6.Nabi Yusuf diberi keahlian TA"WIL AL AHADITS(lebih dari sekedar ta'wil mimpi)
7.Nabi muhammad diberi ilmu ghaib /berita ghaib dari Allah swt.
SIMAKLAH TERJEMAHANNYA
oleh KH. A. Rifqi Chowas
Sunday, 26 June 2011
Urus urusan manusia sendiri
Gus Dur memaknakan "Jangan urusi urusan Gusti Allah, tapi urus urusanmu sendiri" malah agak serem... Perbuatan mbela sing mambu-mambu agama, iku disebut sebagai ngurusi urusane Gusti Allah. Koyok mbela nama baik agama, mbela kesucian agama,.. pokoke sing mambu-mambu "nulungi Gusti Allah" iku nek dimaknai kelawan "kerja salah kaprah letterlijk" cah sekarang iku disebut ngurusi urusan Gusti Allah.
Dipikir-pikir, betul juga ya. Bahwa kita marah dengan aksi orang membuat kartun Nabi, itu jangan karena semata-mata karena Nabi dihina atau harus membelanya. Karena sepanjang sejarah, para nabi dan rasul juga malaikat sudah dihina pol-polan oleh manusia, dan tak ada seorangpun manusia yang mampu membela mereka. Yang pasti dimuliakan oleh Allah, tetap mulia sampai kapanpun, meskipun dihina oleh seluruh manusia.
Jadi apa donk urusan kita terhadap keadaan ini? Ya, bela urusan kita sendiri. Apa itu? Bahwa Nabi tidak boleh dirupa adalah kepercayaan kita. Nah, kita marah itu dalam rangka membela kepercayaan kita sendiri. Dalam alam demokrasi, kepercayaan kita dihargai orang itu adalah hak, begitu juga kepercayaan orang dihormati kita adalah hak. Adanya keseimbangan hak satu dengan yang lain itulah makna demokrasi. Orang itu mengkartunkan Nabi berarti melanggar demokrasi, dan kita mendiamkan aksi orang mengartunkan nabi berarti juga kita melanggar demokrasi. Karena itu kita tidak boleh diam. Diam berarti kita menodai demokrasi itu sendiri. Dalam demokrasi, hak satu dengan yang lain harus sama-sama dijunjung tinggi. Ini adalah argumentasi yang semestinya kita ajukan kepada negara dimana para pengartun Nabi berada.
Logika ini dimengerti ketika kita mencerna makna dari kitab Alhikam yang diterjemahkan Gus Dur dengan "Urus urusanmu sendiri, jangan urus urusan Gusti Allah"
Wallahu a'lam.
oleh KH. A. Rifqi Chowas
Dipikir-pikir, betul juga ya. Bahwa kita marah dengan aksi orang membuat kartun Nabi, itu jangan karena semata-mata karena Nabi dihina atau harus membelanya. Karena sepanjang sejarah, para nabi dan rasul juga malaikat sudah dihina pol-polan oleh manusia, dan tak ada seorangpun manusia yang mampu membela mereka. Yang pasti dimuliakan oleh Allah, tetap mulia sampai kapanpun, meskipun dihina oleh seluruh manusia.
Jadi apa donk urusan kita terhadap keadaan ini? Ya, bela urusan kita sendiri. Apa itu? Bahwa Nabi tidak boleh dirupa adalah kepercayaan kita. Nah, kita marah itu dalam rangka membela kepercayaan kita sendiri. Dalam alam demokrasi, kepercayaan kita dihargai orang itu adalah hak, begitu juga kepercayaan orang dihormati kita adalah hak. Adanya keseimbangan hak satu dengan yang lain itulah makna demokrasi. Orang itu mengkartunkan Nabi berarti melanggar demokrasi, dan kita mendiamkan aksi orang mengartunkan nabi berarti juga kita melanggar demokrasi. Karena itu kita tidak boleh diam. Diam berarti kita menodai demokrasi itu sendiri. Dalam demokrasi, hak satu dengan yang lain harus sama-sama dijunjung tinggi. Ini adalah argumentasi yang semestinya kita ajukan kepada negara dimana para pengartun Nabi berada.
Logika ini dimengerti ketika kita mencerna makna dari kitab Alhikam yang diterjemahkan Gus Dur dengan "Urus urusanmu sendiri, jangan urus urusan Gusti Allah"
Wallahu a'lam.
oleh KH. A. Rifqi Chowas
Mutiara Surat Yusuf ayat 23-30
Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah ke sini". Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik". Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. (23) Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (24) Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata: "Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?" (25) Yusuf berkata: "Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)", dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: "Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. (26) Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar". (27) Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: "Sesungguhnya (kejadian) itu adalah diantara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar". (28) (Hai) Yusuf: "Berpalinglah dari ini, dan (kamu hai isteriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah". (29) Dan wanita-wanita di kota berkata: "Isteri Al Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata". (30)
oleh KH. A. Rifqi Chowas
oleh KH. A. Rifqi Chowas
mutiara Al Ghazali
نقل الإمام ابن عطاء الله السكندري عن الإمام أبو الحسن الشاذلي قوله: إذا عرضت لكم إلى الله حاجة فتوسلوا إليه بالإمام أبو حامد-(لطائف المنن ص97
Imam Ibnu Athoillah Assakandari(pengarang kitab Al hikam)menuqil dari Imam Abil Hasan Assyadzily beliau berkata:KALAU KALIAN DIHADAPKAN PADA SEBUAH HAJAT KEPADA ALLAH MAKA BERTAWASSUL LAH KEPADA IMAM AL GHAZALI............(Lathoif al minan hal 97
oleh KH. A. Rifqi Chowas
Imam Ibnu Athoillah Assakandari(pengarang kitab Al hikam)menuqil dari Imam Abil Hasan Assyadzily beliau berkata:KALAU KALIAN DIHADAPKAN PADA SEBUAH HAJAT KEPADA ALLAH MAKA BERTAWASSUL LAH KEPADA IMAM AL GHAZALI............(Lathoif al minan hal 97
oleh KH. A. Rifqi Chowas
hukum memanjangkan/menjuraikan pakaian(ISBAL)
1.Makruh karena menyerupai perbuatan orang sombong pada waktu Zaman Nabi saw trengd kesombongan di tandai dengan perbuatan tersebut.....
2.Haram kalau disertai dengan kesombongan....
3.mubah kalau tidak bertujuan macam-macam.....
begitulah pendapat para Ulama...dan dalam kitab Kasyful qina' hal 276 juz 1 disebutkan:
Syekh Al Fqih Manshur Al Bahuty Al Hanbaly berkata:
فان اسبل ثوبه لحاجة كستر ساق قبيح من غير خيلاء ابيح.........قال احمد بن حنبل في رواية جر الازار واسبال الرداء قي الصلاة اذا لم يرد الخيلاء فلا بأس BILA SESEORANG MENJULURKAN PAKAIAN KARENA HAJAT SEPERTI MENUTUPI BETISNTA YANG BURUK DENGAN TANPA KESOMBONGAN MAKA TIDAK MENGAPA DAN DIBOLEHKAN.
AHMAD BIN HANBAL BERKATA DALAM SEBUAH RIWAYATNYA: MENARIK KAIN DAN MENJULURKAN RIDA'/PAKAIAN DI DALAM SHOLAT APABILA TIDAK DISERTAI KESOMBONGAN MAKA TIDAK APA-APA.
SUMBER;AL BAYAN ALQAWIEM.....
oleh KH. A. Rifqi Chowas
2.Haram kalau disertai dengan kesombongan....
3.mubah kalau tidak bertujuan macam-macam.....
begitulah pendapat para Ulama...dan dalam kitab Kasyful qina' hal 276 juz 1 disebutkan:
Syekh Al Fqih Manshur Al Bahuty Al Hanbaly berkata:
فان اسبل ثوبه لحاجة كستر ساق قبيح من غير خيلاء ابيح.........قال احمد بن حنبل في رواية جر الازار واسبال الرداء قي الصلاة اذا لم يرد الخيلاء فلا بأس BILA SESEORANG MENJULURKAN PAKAIAN KARENA HAJAT SEPERTI MENUTUPI BETISNTA YANG BURUK DENGAN TANPA KESOMBONGAN MAKA TIDAK MENGAPA DAN DIBOLEHKAN.
AHMAD BIN HANBAL BERKATA DALAM SEBUAH RIWAYATNYA: MENARIK KAIN DAN MENJULURKAN RIDA'/PAKAIAN DI DALAM SHOLAT APABILA TIDAK DISERTAI KESOMBONGAN MAKA TIDAK APA-APA.
SUMBER;AL BAYAN ALQAWIEM.....
oleh KH. A. Rifqi Chowas
Subscribe to:
Posts (Atom)