Gus Dur memaknakan "Jangan urusi urusan Gusti Allah, tapi urus urusanmu sendiri" malah agak serem... Perbuatan mbela sing mambu-mambu agama, iku disebut sebagai ngurusi urusane Gusti Allah. Koyok mbela nama baik agama, mbela kesucian agama,.. pokoke sing mambu-mambu "nulungi Gusti Allah" iku nek dimaknai kelawan "kerja salah kaprah letterlijk" cah sekarang iku disebut ngurusi urusan Gusti Allah.
Dipikir-pikir, betul juga ya. Bahwa kita marah dengan aksi orang membuat kartun Nabi, itu jangan karena semata-mata karena Nabi dihina atau harus membelanya. Karena sepanjang sejarah, para nabi dan rasul juga malaikat sudah dihina pol-polan oleh manusia, dan tak ada seorangpun manusia yang mampu membela mereka. Yang pasti dimuliakan oleh Allah, tetap mulia sampai kapanpun, meskipun dihina oleh seluruh manusia.
Jadi apa donk urusan kita terhadap keadaan ini? Ya, bela urusan kita sendiri. Apa itu? Bahwa Nabi tidak boleh dirupa adalah kepercayaan kita. Nah, kita marah itu dalam rangka membela kepercayaan kita sendiri. Dalam alam demokrasi, kepercayaan kita dihargai orang itu adalah hak, begitu juga kepercayaan orang dihormati kita adalah hak. Adanya keseimbangan hak satu dengan yang lain itulah makna demokrasi. Orang itu mengkartunkan Nabi berarti melanggar demokrasi, dan kita mendiamkan aksi orang mengartunkan nabi berarti juga kita melanggar demokrasi. Karena itu kita tidak boleh diam. Diam berarti kita menodai demokrasi itu sendiri. Dalam demokrasi, hak satu dengan yang lain harus sama-sama dijunjung tinggi. Ini adalah argumentasi yang semestinya kita ajukan kepada negara dimana para pengartun Nabi berada.
Logika ini dimengerti ketika kita mencerna makna dari kitab Alhikam yang diterjemahkan Gus Dur dengan "Urus urusanmu sendiri, jangan urus urusan Gusti Allah"
Wallahu a'lam.
oleh KH. A. Rifqi Chowas
No comments:
Post a Comment
Kami membutuhkan saran dan kritik anda, dan juga jika didalam postingan ada kata-kata yang tidak anda fahami dan kata-kata yang salah mohon beritahukan kepada admin agar kita dapat memperbaikinya